Wednesday, December 23, 2009

Menjadi Unta - Sebuah Renungan Natal

Minggu 13 Desember 2009,

Hari itu aku ikut padus kebaktian III jam 5 sore, dimana latihannya sudah dimulai dari jam 2 siang. Kebetulan aku juga ikut acara padus natalan tgl 24 ~ 25 Desember, jadi sehabis kebaktian langsung mengikuti lagi latihan sampai malam jam +/- 8.30 an.

Walaupun cukup panjang dan melelahkan waktu terasa sangat singkat dan cepat berlalu, ada sukacita dan berkat dalam pelayanan ini Trima Kasih TUHAN.

Entah bagaimana walaupun sudah malam, aku tidak langsung segera pulang tapi santai saja. Pas sampai di eksalator turun, aku bertemu dengan seorang sahabat sepelayanan dulu, beramah tamah sebentar kemudian dia bertanya apa aku bisa bantu menjadi unta untuk perayaan Natal lokasi tanggal 16 Desember 2009.

Kebetulan aku bebas dan aku pikir apa susahnya jadi unta tidak perlu menghafal script dan cuma ikut orang majus saja :) jadi aku terima saja, hitung-hitung bantu kawan yang kesulitan mencari orang untuk peran unta hee... hee.. Akhirnya deal aku ikut "gr"-nya hari selasa, walaupun waktunya agak mepet dengan jadwal pembahasan selasa. Tapi it's OK nyante aja.

Tanggal 15 Desember 2009

Aku terlambat ke "gr", sms suruh sebelum jam 7.00 malam, aku tiba jam 7.00 lewat juga belum mulai, yah sudah biasa.
Ok, tiba waktunya berpakaian unta, oh ya aku tidak sendiri, di belakang saya ada seorang kawan yang baru kenal bantu menjadi bagian belakang unta. Untanya itu punya punuk pas di kepala aku, dan punuknya tertutup sebagian jadi aku bisa melihat jalan dan orang bisa lihat wajah saya kalau dari depan, kalau dari samping ya punuk yang sempurna. Brifing sedikit dari empunya acara, cara jalan, cara berdiri, cara menjadi unta yang nakal.

Waktu aku "ehm maaf maksudnya unta" mulai berjalan ditemani orang majus, dari pintu  masuk aula utama  menuju panggung. Wah pada tertawa, ada juga yang bilang lucu yah.., kok unta pake kacamata hee..., kasihan deh jadi unta... :) Setelah selesai dan confirm tugasku, makan dulu lantas langsung pulang.

Tanggal 16 Desember 2009,

Hari H nya, aku datang sangat pas dan dapat parkiran jauh.. Begitu masuk gereja, langsung diminta segera ke ruangan dimana kawan-kawan sudah berkumpul. Aku melihat wajah mereka tegang, aku mengerti perasaan itu. Tapi aku kan unta jadi tidak perlu tegang  :) lagi pula aku tidak sendiri ada kawan belakang unta... hee..
Sekenario dimulai, lampu menjadi gelap remang-remang, spot light fokus ke arah panggung dimana sudah ada sederetan malaikat cantik-cantik, Yusuf, Maria, Narator yang beraksi, sementara dibelakang-nya ada penyanyi padus gabungan 3 kebaktian dengan outfit topi sinterklas.

Ok show time, pelan-pelan unta berjalan masuk sambil dipegang oleh 1 dari 3 orang majus dari pintu masuk aula utama, spot light langsung mengarah kepada kelompok majus, sementara, begitu masuk lebih banyak lagi yang tertawa dan lebih keras dari saat "gr" wah... tampaknya kami berhasil... aku yakin anak-anak pasti suka sama unta-nya lucu sih.. Saat tiba untuk turun panggung, ternyata untanya enggak di pegang talinya, eh untanya malah jalan sebaliknya mengarah ke arah Mawar Simorangkir.

Ini pertemuan aku pertama kali satu panggung dengan Mawar Simorangkir  live lho heee... kalau aku teruskan bisa ketabrak unta Mawar Simorangkir-nya, jadi aku putar balik aja deh, walaupun dibelakang panggung aku di protes eh tidak sesuai sekenario terlalu cepat putarnya... hee.. nyante aja deh...

Hari itu ada Mawar Simorangkir, ada Wawan Yap, ada permainan 1 piano berdua Mima L.G bersama Kak Sari, hebat 20 jari...

Renungannya..

Banyak yang ingin menjadi tokoh seperti Malaikat, Yusuf, Maria, tapi  menjadi unta ada berapa ya ? Ada yang bilang  lucu sampai kasihan deh jadi unta...
Ya, memang menjadi unta tidak akan banyak dikenal orang, juga bukan tokoh yang prestis, dan juga panas kalau mau tau, karena tebal-nya pakaian unta.
Demikian juga sekalipun aku menjadi unta, aku  tidak kehilangan esensi saya sebagai seseorang pribadi, dan tidak ada satu apapun yang hilang dari pada saya.

Aku mencoba merenungkannya, bukankah juga demikian YESUS Anak ALLAH, RAJA yang turun ke dunia bukan menjadi siapa-siapa, justru lahir di tempat yang hina di kandang binatang dan tidak kehilangan esensinya sebagai Anak ALLAH, RAJA, Juruselamat kita sekalipun YESUS menjadi orang.

Yang menarik adalah pertanyaan "Mengapa YESUS mau menjadi serupa seperti kita ?", aku pikir sebaliknya justru kita yang serupa DIA, karena kita diciptakan menurut peta teladan DIA. DIA-lah sang MASTER, PENCIPTA, PEMBUAT kita, yang mau melawat, berbicara, menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita,   walau kita serupa dengan DIA, tapi kita sudah kehilangan kemulian DIA.

Oh, Terima Kasih BAPA di Sorga begitu besar kasih-MU kepada kami, sehingga memberi ANAK-MU agar setiap orang yang percaya kepada-NYA, tidak binasa.

SOLI DEO GLORIA

Selamat Natal dan Tahun Baru 2010, thanks juga buku "The Purpose of Christmas-nya Rick Warren"

No comments: