Tuesday, February 05, 2019

Belajar dari Kegagalan

Amsal 24:16 "Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana."

Jikalau kita disuruh memilih antara berhasil atau gagal, tentu semua orang memilih berhasil. Perencanaan yang matang, curahan perhatian yang serius dan menyita waktu, training-training yang kita ikuti untuk mendapatkan pembekalan, koneksi yang dibangun untuk menciptakan rekanan, bahkan doa-doa yang kita naikan, semua ini menyatu menjadi paket usaha yang kita lakukan. Tentu saja tujuan akhirnya adalah mendapatkan keberhasilan, bukan? Hal ini tentu baik. Justru aneh dan tidak bijak jika kita mengharapkan keberhasilan tanpa berbuat apa-apa. Kita menunggu sambil tidur-tiduran (malas) dan berharap sukses begitu saja. Yang benar adalah kita harus berjuang sampai pada akhirnya Tuhan membawa kita pada keberhasilan yang Dia kehendaki.

Realita kehidupan yang tidak bisa dipungkiri adalah sebesar-besarnya keinginan kita untuk mencapai keberhasilan, sedetil-detilnya perencanaan yang kita lakukan, dan sebesar-besarnya usaha yang kita kerjakan, kegagalan bisa saja kita alami. Jika itu terjadi, bagaimana kita bersikap terhadap kegagalan di tengah perjuangan yang kita lakukan?

1. Melihat kegagalan bukan sebagai akhir. 

Hidup adalah sebuah perjalanan yang sangat prematur jika kita menyatakan perjalanan ini berhenti karena sebuah kegagalan. Kegagalan hanyalah bagian dari dinamika perjalanan kehidupan yang akan berlanjut pada fase perjalanan selanjutnya. Dengan kata lain setelah kita mengalami kegagalan, ada kesempatan yang sebenarnya terpampang di depan kita dan di sana ada kesempatan kesempatan yang Tuhan anugerahkan sehingga kita dapat bangkit dan mulai melangkah lagi dengan sebuah pengharapan. Inilah setidaknya yang dapat kita pelajari dari perjalanan tokoh-tokoh Alkitab yaitu orang-orang yang dalam perjalanan hidupnya dipilih Allah untuk melayani-Nya. Sebut saja Daud dalam kasus perzinahannya dengan Betsyeba atau Petrus dalam kasus penyangkalannya. Kedua tokoh ini pernah gagal dan hancur hati karena kegagalan mereka. Akan tetapi pada akhirnya mereka melanjutkan hidup dengan kesadaran bahwa Tuhan memberi anugerah pengampunan dan anugerah untuk melangkah melanjutkan perjalanan kehidupan.

2. Melihat kegagalan sebagai proses pembelajaran 

Ada banyak cara belajar yang bisa kita tempuh yang melaluinya kita mendapatkan pengetahuan atau hikmat yang sangat diperlukan untuk mencapai sebuah kehidupan yang lebih baik di antaranya pendidikan formal, non formal, informal, membaca bacaan yang bagus, pergaulan, belajar dari pengalaman termasuk kegagalan, dsb. Ironisnya, alih-alih menjadikan kegagalan sebagai sebuah alat untuk proses pembelajaran, tidak sedikit orang yang menganggapnya sebagai godam besar yang meluluhlantakan kehidupan. Mereka tinggal dalam keterpurukan, meratapi kegagalan yang dialami, dan tenggelam dalam keputusasaan. Kita bisa melihat dua tokoh yang biasanya diangkat sebagai negasi Daud dan Petrus, yaitu Saul dan Yudas Iskariot. Mereka adalah orang-orang yang pernah gagal tetapi sangat disayangkan, harta terpendam dari sebuah kegagalan tidak ditemukan. Akhri dari kehdupan mereka pun mengenaskan. Semua ini terjadi karena mereka tidak belajar sesuatu dari kegagalan itu.

3. Percaya bahwa Tuhan berdaulat atas hidup kita 

 Sebagai orang-orang yang percaya pada Tuhan, adalah penting untuk memiliki keyakinan bahwa tidak ada satupun kejadian dalam hidup kita terjadi secara kebetulan. Termasuk di dalamnya kegagalan. Entahkah karena kesalahan kita sendiri atau karena faktor eksternal yang menyebabkan kegagalan, setidaknya kondisi ini tentu tidak lepas dari izin Tuhan. Lalu mengapa Tuhan mengizinkan kegagalan dapat terjadi dalam kehidupan kita? Tentu ada maksud Tuhan di dalamnya. Ketika kita memasuki ranah maksud Tuhan itu, maka kita harus memiliki keyakinan bahwa hal itu bukan untuk merusak atau membinasakan hidup kita. Di sinilah pentingnya mempercayakan kehidupan kita pada kedaulatan Allah. Keyakinan ini akan memampukan kita untuk menjalani prinsip melanjutkan kehidupan dengan pengharapan walaupun mengalami kegagalan dan belajar sesuatu yang baik dari kegagalan. Pada akhirnya kegagalan adalah sebuah kesempatan di mana kita dapat mengalami anugerah Tuhan dan belajar sesuatu yang berharga sebagai bekal melanjutkan kehidupan. Salam belajar dari kegagalan. [TA]

sumber artikel: Warta Jemaat Gereja Injili Indonesia Hok Im Tong, 05/2019 - 3 Februari 2019



Tuesday, July 05, 2016

Berpuasa dan Berdoa

MAKNA BERPUASA

Berpuasa adalah kegiatan kerohanian yang diajarkan dan dicatat dalam Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Para Nabi, Para Rasul, bahkan TUHAN YESUS sendiri melaksanakan, mengajarkan dan memberi teladan dalam hal berpuasa.

Pada dasarnya, berpuasa adalah tindakan iman, yang dilakukan dengan kesadaran dan ketulusan, untuk merendahkan diri di hadapan TUHAN SANG PENCIPTA. Hal ini dilakukan oleh umat TUHAN untuk maksud tujuan Pertobatan, mendekatkan diri secara pribadi atau bersama kepada TUHAN dan mengakui bahwa TUHAN adalah satu-satunya ALLAH, Sumber Kehidupan, pertolongan dan keselamatan. (Ezra 8:21-23)

Berpuasa selalu berkaitan erat dengan berdoa. Bila berpuasa adalah sebuah tindakan dan sikap berprihatin di hadapan TUHAN, maka berdoa adalah mengungkapkan isi hati dan pergumulan jiwa kepada TUHAN. Keduanya mempunyai kesamaan, yaitu mencari dan mengandalkan TUHAN yang memberikan kekuatan secara rohani dan jasmani. (Zakharia 7:5)

TUJUAN BERPUASA DAN BERDOA

  • Bersungguh-sungguh melakukan pertobatan, berbalik dengan segenap hati pada TUHAN serta memohon agar hati yang melawan TUHAN diubahkan dan diperbaharuiNya. (Yoel 2:12-17)
  • Mengarahkan hati kepada TUHAN dengan menyesali dan mengakui semua dosa yang sudah pernah dilakukan, agar kejahatan dan kenajisan dalam dalam hidupnya diampuni dan dihapuskan. (Daniel 9:1-10) 
  • Mencari ALLAH dengan segenap hati dan jiwa, bersama seluruh keluarga berbalik ke jalan TUHAN dengan meninggalkan semua kejahatan, agar TUHAN menghindarkan malapetaka. (Yunus 3:5-10) 
  • Mohon tuntunan dan anugerahNya agar dapat dengan tulus melaksanakan hukum dan kehendak TUHAN, hidup dalam kasih sayang dan menjadi berkat. (Zakharia 7:5-10)
  • Agar umat TUHAN mencintai kebenaran dan kedamaian sehingga kehidupannya dipulihkan TUHAN, menjadi berkat dan diberkati , dan disertai TUHAN senantiasa. (Zakharia 8:13, 23, 14-19)
  • Untuk menghadapi dan menangkal pencobaan, sehingga terhindar dari jerat kuasa iblis dan mengalami anugerah, pertolongan serta perlindungan TUHAN. (Matius 4:1-11)
  • Dalam menghadapi pergumulan, dengan sungguh-sungguh bertanya serta mencari TUHAN, sehingga mendapat pertolonganNya. (Matius 6:16-18, 7:1-10)

BAGAIMANA BERPUASA ? 

  • Berpuasa dilakukan dengan tujuan yang jelas seperti contoh dalam Alkitab. Jadi bukan sebuah gerakan massa atau ikut-ikutan
  • Berpuasa dijalani dalam kesadaran untuk mendekatkan diri pada TUHAN, dengan sikap lebih berdiam diri di hadapan TUHAN, lebih banyak membaca Alkitab dan menambah saat berdoa.
  • Berpuasa dilakukan dalam keprihatinan, mengintrospeksi diri dan mengakui setiap dosa untuk mohon pengampunan TUHAN, maka sebaiknya tidak dalam suasana keriuhan.
  • Berpuasa dijalani di hadapan TUHAN dan bersama TUHAN, namun tidak berarti harus meninggalkan tugas kegiatan. Tetap bekerja bagi yang bekerja dan beraktifitas secara biasa. 
  • Berpuasa dilakukan secara pribadi , tidak dipertontonkan pada orang lain, maka bersikap secara wajar, tidak supaya dilihat orang. 
  • Berpuasa dijalani tanpa makan dan minum dalam rangka waktu tertentu, sesuai kekuatan tubuh. Tidak bertujuan menyiksa diri sampai jatuh sakit. Maka tidak boleh dipaksakan. 
  • Berpuasa bukan bertarak (diet) untuk tujuan tubuh dan kesehatan, walaupun manfaat puasa bisa lebih menyehatkan badan.
  • Berpuasa juga merupakan saat yang baik untuk membuang dan menghentikan kebiasaan-kebiasaan tidak baik, mengontrol diri dan memohon kekuatan TUHAN
  • Berpuasa dianjurkan mulai pagi hari sampai sore sesuai kekuatan masing-masing, dan dapat dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan.
  • Tatkala berdoa, selain pergumulan pribadi, doakanlah orang lain yang perlu dukungan doa, juga gereja, pelayanan serta misi TUHAN untuk keselamatan dunia.


Selamat Berpuasa dan Berdoa.

Sumber: Berpuasa dan Berdoa – Kebaktian Doa Rabu menyambut JUMAT AGUNG dan PASKAH – GII Mekarwangi 23 Maret 2016.

Sunday, January 10, 2016

Light of Life


  • Alkitab adalah Firman TUHAN dan benar
  • Berdoa adalah berbicara dengan TUHAN
  • TUHAN adalah pencipta
  • TUHAN  mengasihi dan memelihara anak-anak-Nya
  • TUHAN selalu menepati janji - janji-Nya
  • Berdosa adalah berkata tidak kepada TUHAN
  • Semua orang berdosa dan memerlukan Juruselamat
  • TUHAN mengutus Yesus, Putra-Nya
  • Yesus adalah Juruselamat
  • Yesus menyelamatkan anak-anak-Nya dari dosa
  • Kita percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat kita
  • Kita taat kepada TUHAN karena DIA mengasihi kita.
  • Kita taat kepada TUHAN karena kita percaya kepada-Nya
  • Kita taat kepada TUHAN karena kita mengasihi-Nya
  • Gereja adalah umat TUHAN